Skip to content

Buruk Muka Cermin Dibelah.

Oleh : Buya Gusrizal Gazahar

Bila fatwa, khutbah, taushiyyah dan rekomendasi ulama sudah dipandang sebagai penyebab rusaknya kebhinnekaan, apa bedanya pernyataan seperti itu dengan _sikap kaum musyrikin Makkah_ di masa jahiliyyah terhadap dakwah Rasulullah saw ???

Bagi yang masih belum mengalami kebutaan hati, coba fahami kalimat ‘Utbah Ibn Rabi’ah ketika meminta Rasulullah saw berhenti dari dakwah beliau:
*قد أتيت قومك بأمر عظيم فرقت به جماعتهم*

_”Sesungguhnya engkau (Muhammad saw) telah membawa kepada kaummu suatu perkara sangat besar yang memecah belah persatuan mereka”._

Bila begini pemahaman Bhinneka Tunggal Ika yang hadir dalam pemikiran tuan-tuan para penyelenggara negara, terpaksa harus dibongkar pasang susunan Wawasan Nusantara yang dahulu pernah diterima.


Bhinneka Tunggal Ika
adalah kemajemukan yang diakui eksistensinya dalam bingkai kesatuan _bukanlah usaha menghilangkan kemajemukan untuk mewujudkan persatuan._

Fatwa, khutbah, taushiyyah ulama adalah petunjuk yang diambil dari sumber ajaran Islam (Al-Qur’an dan Sunnah) untuk umat Islam bukan untuk umat lain.

Tugas tuan-tuan penyelenggara negara untuk menjamin agar pesan itu sampai dan nyaman diamalkan oleh kaum muslimin. 

Ini merupakan amanat undang-undang dasar !!!
Kelambatan dan kelalaian menyikapi lah yang menjadi penyebab resah dan gerahnya kaum muslimin.

Bukan fatwa itu yang menjadi penyebab tapi penolakan dan kecemasan tuan-tuan lah yang menjadi pemicu keresahan !

Kalau fatwa yang dijadikan kambing hitam keresahan bahkan sampai menuduh sebagai pemicu rusaknya kebhinnekaan, apa bedanya tuan-tuan dengan ‘Utbah Ibn Rabi’ah pentolan kaum musyrikin Makkah yang menentang dakwah Rasulullah saw ?????

Jawablah dengan sisa keimanan yang masih tertinggal di dalam hati tuan-tuan, jika masih ada !!!

[J4u-n6]

Leave a Reply

%d bloggers like this: