Skip to content

Panglima Perang Terbaik Sepanjang Sejarah adalah Rasulullah SAW

Muhammad SAW,

Berbicara mengenai sosok yang satu ini takkan pernah ada habisnya. Sosok sederhana dari padang pasir nun jauh di Jazirah Arab sana, seorang pemuda biasa, manusia biasa, namun istimewa.

Seorang anak yatim, yang justru dari dirinyalah, berpendar cahaya terang yang menyinari dunia dari gelap gulitanya kejahiliyahan. Seorang yang adil, dan mampu menancapkan tonggak kebenaran, keadilan, dan ditengah hiruk pikuk nafsu iblis yang menguasai dunia.

Tokoh yang diakui oleh seluruh individu dimuka bumi ini sebagai orang paling berpengaruh nomor satu di dunia. Tak hanya bagi umat muslim, tapi oleh umat antar agama, lintas generasi.

Teladan yang baik, lemah lembut, welas asih dan, entah apalagi.

Andai kita bisa menggunakan seluruh isi laguna sebagai tinta untuk menulis kebaikan dalam diri beliau maka tidak akan habisnya. Qur’an berjalan, yah itulah Muhammad. Pemuda dari kabilah Bani Hasyim, salah satu kabilah dalam Suku Quraisy Mekkah, yang menguasai kota tempat Ibrahim AS dan Ismail AS membentuk peradaban di Jazirah Arab. Dan suku yang merawat bangunan suci, amanat Alloh SWT bagi manusia, Ka’bah.

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba mengungkap hal yang selama ini belum kita ketahui dari Rasulullah SAW, yakni pandangan, strategi dan cara Rasulullah berperang atau berjihad, sehingga islam mampu menjadi BATU BATA PERADABAN awal lahirnya cahaya baru bagi dunia.

Perang, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah penyebaran islam yang dilakukan oleh Rasululloh SAW, sejatinya adalah tindakan petahanan diri dari serangan musuh. Perang dalam islam, memiliki karakteristik tersendiri, yakni:

1. Langkah defensif untuk mempertahankan diri
2. Melawan segala bentuk kezaliman
3. pembebasan wilayah untuk memperluas dakwah islamiyah
4. Bentuk konkrit untuk menunjukan konsep dan gagasan islam sebagai agama rahmatan lil’alamin

Rasululloh adalah salah satu ahli strategi militer terhebat yang pernah disaksikan dunia.
Mengapa demikian?
Karena sejarah mencatat, Rasululloh dalam setiap peperangan selalu menjalankan dengan penuh semangat, solid antara pemimpin dengan prajurit, dan strategi perang yang efektif. Sehingga faktanya Rasululloh tidak pernah mengalami kegagalan dalam merancang segala strategi pertempuran. Kejelian, kecerdasan, serta musyawarah yang efektif adalah kuncinya.

Satu-satunya kekalahan yang pernah beliau alami adalah saat perang uhud. Itupun bukanlah karena kesalahan beliau dalam merancang strategi, namun lebih kepada kesalahan para pemanah yang meninggalkan tempatnya. Namun fakta yang selama ini belum kita ketahui adalah, pasukan islam sempat melakukan serangan balik sebelum mundur pada perang uhud.

Ya, saat Panglima Kavaleri Quraisy, Khalid Bini Walid menyerbu pasukan muslim dari belakang, prajurit muslim kocar-kacir. Namun sahabat-sahabat terdekat atas perintah Rasul melancarkan serangan kecil mendadak kedua arah. Apa fungsinya?
Hal ini untuk memukul mental musuh, bahwa dengan kondisi terdesak sekalipun, pasukan muslim masih mampu menyerang, sehingga niat musuh yang tadinya ingin menghabisi pasukan muslim mereka urungkan dan membiarkan pasukan muslim mundur.

STRATEGI EFEKTIF ALA RASULULLAH SAW
1. Menang Tanpa Bertempur
Seorang jenderal perang legendaris dari zaman Tiongkok kuno bernama Sun Tzu, dalam buku karangannya yang berjudul “The Art Of War” menuliskan hal berikut: “Seratus kemenangan dalam dalam seratus pertempuran bukanlah keterampilan militer yang hebat. Namun menundukan kekuatan lawan tanpa pertempuran barulah kekuatan militer yang hebat”

Inilah salah satu strategi yang dilakukan oleh Muhammad SAW. Ambil contoh dalam perang Khandaq, tanpa melakukan perang terbuka yang menguras tenaga, pasukan koalisi Quraisy-Yahudi saling curiga satu sama lain sehingga melemahkan kekuatan mereka.

Adalah Nu’aim bin mas’ud, sosok protagonis dalam perang ini. Diutus oleh Rasululloh SAW untuk menyelinap kedalam tentara koalisi. Sosoknya yang merupakan alumni Perang Ghatafan, mempermudah dirinya untuk berbaur untuk mengadu domba Quraisy-Yahudi Bani Quraizah.

Lalu perang lain yang dimenangkan oleh Muhammad SAW tanpa pertempur adalah Fathul Mekkah. Dengan strategi pengepungan Kota Mekkah dari empat penjuru yang masing-masing sayapnya dipimpin oleh Rasululloh SAW sendiri, Abu Ubaidah, Zubair bin Awam dan Khalid bin Walid, untuk pertama kalinya kaum Quraisy yang terkenal sebagai kabilah terkuat di Jazirah Arab menyerah tak berkutik.

Para sejarawan menyamakan, jatuhnya Mekkah ketangan pasukan muslim dengan jatuhnya imperium romawi barat (bukan Byzantium), dan jatuhnya Berlin ketangan musuh-mush Hitler.

Dengan metode ini, Nabi berhasil mematahkan teori perang kuno, bahwa untuk menaklukan suatu daerah atau wilayah harus melancarkan serangan militer dengan teknik penghancuran dan pembunuhan besar-besaran dengan kerugian fisik dan ekonomi yang tinggi. Bahkan sampai harus melakukan genosida dalam suatu wilayah dengan alasan agar tidak ada keturunannya yang akan membalas dendam.

Dengan strategi efektif ala Nabi SAW, kerugian bisa diminimalisir dan keuntungannya selain harta rampasan perang yang berlimpah, ini menunjukan kekaguman dari para musuh bahwa betapa agung dan luhurnya jiwa prajurit muslim dan SOLUSI ISLAM membuat para orang-orang di wilayah yang dibebaskan berbondong-bondong masuk islam.

2. Jumlah Korban

Dalam setiap peperangan, jatuhnya korban jiwa adalah hal yang ssanga sulit dihindari. Bahkan dianggap lumrah dan wajar, karena korban memang dibutuhkan untuk mencapai sebuah kemenangan. Namun, sekali lagi, Muhammad SAW dengan segala kecerdasan dan kebijaksanaannya berhasil mematahkan teori itu.

Percayakah anda dengan fakta berikut?
Selama 23 tahun berdakwah, Rasulullah SAW mengalami sembilan kali peperangan besar dan 53 kali ekspedisi militer, dan selama sepuluh tahun peperangan tersebut, jumlah korban yang jatuh dari keduabelah pihak “hanya” mencapai 379 jiwa.

Mari bandingkan dengan Perang Dunia I. Perang yang berlangsung selama empat tahun (1914-1918) total merenggut sekitar 15 juta jiwa. Sedangkan dalam perang dunia kedua (1939-1945) harus merampas 62 juta lebih nyawa manusia.

Inilah perbedaan perang dalam ajaran islam dengan perang ala orientalis. Menurut beliau, banyaknya jumlah korban jiwa yang jatuh bukanlah ukuran sebuah kemenangan dalam perang. Karena pada dasarnya tujuan peperangan dalam islam bukanlah untuk membunuh atau menghabisi musuh dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebagai bagian dari dakwah islamiyah agar para musuh mau memeluk agama islam. Ini sebagai sangkalan bahwa tuduhan dan fitnah yang dilontarkan kaum orientalis barat kepada Rasululloh SAW sebagai seorang pembunuh dan penjahat perang adalah sebuah kebohongan.

Justru dalam suatu kisah pernah diceritakan bahwa Rasululloh SAW sangat marah kepada beberapa tentara muslim dibawah pimpinan Khalid bin Walid membunuh beberapa orang dari Bani Judzaimah yang sudah meletakkan senjata dan menyerah. Kejadian ini sangat disesalkan oleh Rasul SAW sehingga beliau meminta Ali bin Abi Thalib untuk memberikan diyat atau pengganti kerugian korban.

Subhanalloh.. Inilah Rasulullah SAW.

Leave a Reply

%d bloggers like this: