Skip to content

Hijrah bukanlah melarikan diri. Hijrah adalah persiapan membekali diri untuk kehidupan akhirat.

Akhirnya dari kejadian-kejadian yang dialami dan atas perintah Allah swt. Nabi saw. melakukan hijrah yaitu berpindah dari tempat lama (Makkah) ke ke tempat baru (Madinah).

Walaupun  ia bisa meminta kepada Allah untuk membinasakan semua kaum kuffar Mekkah, namun itu tidak ia lakukan.

Karena Nabi SAW telah melihat dengan jelas berat dakwah jika bertahan di tempat lama (Mekkah) dan Nabi SAW sangat yakin akan ada kebaikan Saat mentaati perintah Allah SAW setelah melihat petunjuk yang nyata bahwa di luar sana lebih baik untuk dakwah.

Ada banyak hikmah di balik peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah. Sedikit , diantaranya
Pertama, bahwa kegagalan tidak mesti menjadikan seseorang berputus asa dalam berjuang mencapai maksud dan tujuan yang telah ditetapkan.

Jika manusia mengalami kegagalan di suatu tempat, di sebuh metode dan cara, maka hendaklah dia mencari tempat, cara atau metode baru dalam mencapai kesuksesan.
Rahmat dan karunia Allah itu tersebar luar, Al-Quran meyakikan.

وَلَا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
“dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf ayat 87)

Kedua: semangat pengorbanan

Ketika akan hijrah, Abu Bakar ash-Shiddiq membeli dua ekor unta yang akan mereka kendarai menuju Madinah. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Saya telah membeli dua ekor unta untuk kendaraan kita menuju Madinah. Silahkan engkau pilih mana unta yang engkau sukai dari kedua unta ini!”. Rasulullah menjawab, “Tidak, saya tidak akan menaiki unta yang bukan milik saya”. “Unta ini adalah milik engkau yang Rasulullah, karena saya telah menghadiahkannya untukmu”. Jawab Abu Bakar.

Rasulullah tetap menolak untuk mengendarai unta tersebut, sebelum mengganti harganya seharga yang dibeli oleh Abu Bakar. Akhirnya, Abu Bakar mengalah dan menerima uang dari Rasulullah saw. sebanyak harga dia membeli unta tersebut.

Lihatlah firman Allah dalam surat at-Taubah [9]: 20
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”

Ketiga : Konsep pemahaman tawakal yang benar

Kaum kafir dan musyrik sampai di depan mulut goa, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Jika salah seorang mereka melihat ke bawah kedua telapak kakinya pasti akan melihat kita.” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab untuk menenangkannya, “Bagaimana menurutmu dengan dua orang semnetara Allah yang ketiganya, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.”

Inilah arti tawakal yang harus kita pelajari dan tanamkan di dalam jiwa kita untuk menghilangkan deprsi yang menguasai para pemuda usia dua puluh tahunan karena khawatir dengan masa depannya, serahkan dan pasrahkan kepada Allah, tawakallah kepada-Nya dan lakukanalah sebab-sebabnya. Dengan sikap lapang ini akan banyak problematika teratasi.

Begitulah cara yang paling tepat untuk bertawakal.

Keempat: ketika Nabi saw. telah sampai di Madinah, maka hal pertama yang dilakukan beliau adalah membangun Masjid

Karena, dia akan selalu sadar bahwa kesuksesan yang diraihnya adalah berkat bantuan dan pertolongan Allah. Inilah yang disebutkan Allah dalam surat at-Taubah [9]: 109

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Hijrah bukanlah melarikan diri. Hijrah adalah persiapan membekali diri untuk kehidupan akhirat. Karena itulah, Allah Ta’ala berfirman,

 

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (surga) yang mereka menyukainya. Dan sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Hajj: 58-59).

Ditambah lagi, Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam barulah berhijrah tatkala semua sahabatnya telah berangkat menuju Madinah. Hal ini semakin menguatkan bahwa hijrah bukanlah bentuk melarikan diri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Leave a Reply

%d bloggers like this: