Skip to content

Lebaran di Cengkareng: Satu-satunya Lebaran Betawi yang Tersisa

Lebaran di Indonesia senantiasa memiliki ke-khas-an dan keunikan tersendiri, tak terkecuali di daerah Betawi. Ciri khas suku Betawi yang guyub dan spontan tetap terlestarikan hingga saat ini. Satu-satunya lebaran Betawi yang masih dipertahankan dan dirawat hingga saat ini terdapat di daerah Cengkareng, Jakarta Barat.

Di daerah Cengkareng tradisi silaturrahim, yakni saling kunjung mengunjungi antar warga masyarakat masih menjadi kebiasaan. Tidak mengenal status sosial dan ekonomi, hampir semua warga betawi masih setia kepada tradisi tersebut. Di lebaran Betawi Cengkareng juga kita temui kuliner Betawi seperti kue kembang goyang, kue satu, kue lapis Betawi, dan dodol yang bersanding dengan kue kekinian lainnya.

Lebaran Betawi di Cengkareng berlangsung hingga tujuh hari. Orang Betawi Cengkareng memiliki jadwal keliling kampung sebagai berikut: hari pertama, dimulai dengan mengunjungi makam keluarga atau ulama yang dianggap berpengaruh. Di Cengkareng ada makam tiga ulama yang biasanya ramai dikunjungi, yakni makam Guru Madjid di Basmol, makam Kyai Usman Perak di Rawa Buaya, dan makam Guru Muhammad Nadjihun di Duri Kosambi. Setelah kunjungan ke makam kemudian dilanjutkan dengan silaturrahim ke rumah orangtua, encang encing atau kerabat dekat.

Hari kedua silaturrahim dilakukan ke kampung Tanah Koja. Hari ketiga ke Daerah Duri Kosambi. Hari keempat ke daerah Pondok Randu dan Bojong. Hari kelima ke daerah Rawa Buaya. Hari keenam dan ketujuh menyesuaikan dengan kerabat masing-masing, ada yang ke Kampung Gondrong, Kalideres, atau Pedongkelan. Adapun jadwal ke Kampung Pesalo Basmol Kembangan Utara biasanya dilakukan pada hari Jum’at minggu pertama atau kedua, mengingat orang Basmol biasanya hanya kumpul atau dapat ditemui di kampungnya pada hari Jum’at saja.

Menurut penuturan orangtua saya, H. Zahruddin, tradisi lebaran Betawi ini sudah ada sejak enjit (kakek) saya kecil. Jika kakek saya (Guru Muhammad Nadjihun) lahir pada 1890, maka artinya minimal tradisi ini sudah berlangsung sejak akhir abad 19 atau sudah lebih dari 100 tahun. Apabila dahulu rumah yang didatangi masih sedikit, saat ini setidaknya rumah yang didatangi per hari antara kisaran 70-400 rumah dengan daerah terpadat adalah Duri Kosambi dan Tanah Koja.

Tradisi ini dapat berlangsung secara terus menerus karena penduduk Betawi Cengkareng berada di pinggiran Jakarta, sehingga tidak mengalami serbuan langsung modernisasi. Populasi penduduk Betawi yang berjumlah besar, tidak adanya “cerita” penggusuran serta kristalisasi Betawi di kantung pesantren, merupakan faktor pendukung mengapa budaya ini masih bertahan.

Saat ini Betawi Cengkareng sedang berhadapan dengan godaan modernisasi lewat pembangunan apartemen dan perumahan modern di sekeliling. Semoga saja, godaan ini tidak meluluh lantahkan budaya tradisi lebaran Betawi satu-satunya yang masih bertahan. Jika budaya ini hilang, maka hilang juga sebuah narasi tradisi etnis Betawi. Bukan tidak mungkin, jika satu persatu narasi tradisi hilang, maka tradisi hanya menjadi sebuah narasi sejarah belaka.

Humaidi bin Zahruddin bin Muhammad Nadjihun – Dosen Prodi Pendidikan Sejarah FIS UNJ

sumber

Leave a Reply

%d bloggers like this: