Skip to content

Tenggak ARAK Tidak Apa-apa Untuk Menghargai Adat – ujar Menag saat resmikan STAKat

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terpukau menyaksikan tarian adat Dayak sebelum meresmikan Sekolah Tinggi Agama Katolik (STAKat) Negeri Pontianak di Jalan Parit H Mukhsin, Sungai Raya, Kubu Raya, Kamis (6/4/2017).

Usai mendapat sambutan tarian adat Dayak, Menteri Agama Lukman Hakim diminta memotong bambu yang dipasang melintang depan pintu masuk STAKat. Setelah itu dia diarahkan supaya menginjak telur.

“Setelah prosesi itu, saya dihidangkan minuman arak untuk diminum,” ucap Menteri Lukman Hakim dalam pidatonya di hadapan Gubernur Cornelis, Bupati Rusman Ali, anggota DPR yang juga bupati Landak terpilih dr Karolin Margret Natasa, Ketua DPRD Kalbar M Kebing L dan Forkopimda Kalbar.

Sontak, semua tamu dan undangan termasuk para pejabat tertawa.

“Ada yang membisikkan saya. Pak jangan diminum Pak. Saya bilang tidak apa-apa, simbol saja. Tapi tidak saya telan, untuk menghargai adat, saya bilang,” kata Menteri Lukman Hakim.

Melihat Menteri Agama disuguhkan minuman keras, Gubernur Cornelis langsung bilang, jangan diminum. Gubernur lantas menginstruksikan supaya minuman Menteri Lukman diganti air putih saja.

“Tapi waktunya sudah tidak memungkinkan. Pak Gubernur lalu bilang, bahwa tidak perlu dihidangkan ke saya. Saya bingung sambil memperhatikan gubernur,” cerita Menteri Lukman.

Karena bingung lantaran dicegah, Menteri Lukman spontan bertanya kepada Gubernur Cornelis.

“Saya bilang ke pak gubernur, bahwa tidak apa-apa. Ini kan hanya simbol saja untuk menghormati adat,” bebernya.

Gubernur Cornelis langsung menjawab, “Di sini ada banyak wartawan. Nanti dipelintir, bisa bahaya dan menjadi masalah di tengah-tengah kehidupan keagamaan kita,” katanya menjawab rasa penasaran Menteri Lukman.

Mendengar penjelasan itu, Menteri Lukman mengaku terkesan dengan Gubernur Cornelis. “Jujur, saya mendapatkan pelajaran lagi. Saya menangkap suatu rasa,” ujarnya.

Menurut Menteri Lukman, saran Gubernur Cornelis adalah wujud bagaimana beragama dengan rasa. “Itulah toleransi sebenarnya atau toleransi sesungguhnya. Toleransi adalah kemauan dan kemampuan untuk menghormati dan mengharagai perbedaan dengan yang lain,” ungkapnya.

Di era kini, kata Menteri Lukman, terkadang banyak yang bicara toleransi. “Tapi lebih banyak menuntut untuk dihargai dan dihormati. Tujuannya agar yang berbeda di luar sana menghargai serta dan menghormati,” ujarnya.

Dia berpendapat, jika semua menuntut dan meminta, lalu siapa yang membeli? “Siapa yang akan memberikan penghormatan dan penghargaan? Kalau semua umat beragama yang berbeda-beda dalam konteks toleransi itu memberi, maka semua mendapatkan penghargaan dan penghormatan,” tegas Menteri Lukman.

“Bagi saya, kejadian tadi adalah pelajaran. Ini adalah beragama dengan rasa. Mudah-mudahan kita sebagai umat beragama semakin berkualitas dalam menjalani agama dan keyakinan iman masing-masing,” sambung Menteri Agama. [ii1-fajar]

[infoilmiah]

Leave a Reply

%d bloggers like this: