Skip to content

PRIBUMI versus PENDATANG DI ERA KENABIAN”  [Tinjauan Fiqih Sosial] 

Oleh:H.T. Romly Qomaruddien, MA.



Masih ingatkah kita ungkapan 
Philip K. Hiti 

yang menyebutkan : “Peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah merupakan revolusi terbesar sepanjang sejarah?”

Atau 

Thomas W. Arnold 

yang menuturkan : “Tidaklah suatu negeri yang bangsa Arab (Islam) menapakkan kakinya, melainkan akan terbangun suasana toleransi yang baik”.   Itulah pengakuan jujur dari dua orang ilmuwan Barat, yang nuraninya tidak bisa menutupi kekagumannya terhadap hakikat ajaran Islam yang mereka sebut sebagai  Mohammadisme (artinya: aliran atau para pengikut nabiyullaah Muhammad _shalallaahu ‘alahi wasallam_), sebagai penyampai pesan yang membawa ajaran _rahmatan lil ‘aalamien_.

Setibanya di Yatsrib (dalam bahasa latin: _lathrifa_, artinya lembah subur)  sebagai bumi hijrah mereka, bukanlah hal yang sulit untuk menyesuaikan diri. Pertautan satu sama lain yang berbeda suku, adat istiadat, warna kulit dan bahkan agama waktu itu  tidak menghalangi mereka untuk saling menebar kasih sayang. 

Kehadiran para _muhaajirin Makkah_, sungguh mencerminkan peribadi-peribadi tauladan kaum pendatang yang mengesankan. Sementara peribuminya, yakni kaum _anshaar Yatsrib_ tampil menjadi peribadi-peribadi simpatik yang _prophetik_ (yaitu menjunjung nilai-nilai luhur kenabian). 

Maka sangatlah wajar, dalam waktu yang relatif singkat (yaitu sepuluh tahun lamanya), Yatsrib pun berubah menjadi kota _mercusuar_ peradaban yang gemilang _(madienatul munawwarah)_, kota asri _(daarut thayyibah)_, kota aman-nyaman _(daarul amn)_ dan sebutan-sebutan mulia lainnya.

Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury
(ulama India peraih penghargaan dari ulama dunia yang diwakili Syaikh Ali al-Harakan tentang penulisan sejarah Nabi) dalam kitabnya _Ar-Rahiequl Makhtuum_  
Memaparkan, ada tiga tatanan kemasyarakatan yang dibangun oleh Rasulullah _shalallaahu ‘alaihi wasallam_ dalam mengantarkan kemajuan bumi hijrah, yaitu:

1. Ketahanan Spiritual ; yang dipraktekkan langsung dengan membangun rumah Alloh ‘azza wa jalla, yaitu _masjid nabawi_ sebagai markaz pembinaan, pengkhidmatan dan perjuangan ummat.

2. Ketahanan Politik (siyaasah) : dengan melahirkan “Piagam Madinah” _(mitsaq madienah)_ yang meliputi perjanjian damai dan berbagai fasal kesepakan dengan pihak lain dari suku-suku yang berbeda (di antaranya Bani ‘Auf, Bani Najjar, Bani Sa’idah, Bani Harus dan Bani Aus) untuk melindungi  Madinah dari berbagai ancaman luar.

3. Ketahanan Sosial ; yang dibuktikan dengan dijalankannya program _ta’aakhi_, yaitu “saling dipersaudarakannya” para shahabat _ridhwaanullaah ‘alaihim_ satu sama lain tanpa memandang kelas dan kedudukannya. Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zuhair, Hamzah bin ‘Abdul Muthalib dipersaudarakan dengan Mu’adz bin Jabal dan Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Itban bin Malik, dan lain-lainnya.

Sungguh suasana yang menyejukkan, cerminan masyarakat generasi terbaik _(khairu ummah)_ yang banyak diidam-idamkan benar-benar menjadi kenyataan di mana asas kemasyarakan tertunaikan dengan baik. Terciptanya masyarakat yang tertib _(mujtama’an munazzhaman)_, masyarakat yang kokoh _(mujtama’an qawiyyan)_ dan masyarakat yang selamat dan sejahtera _(mujtama’an salieman)_ merupakan buah yang dipetik dari sebuah proses yang tidak gampang, melainkan perjuangan panjang dan membutuhkan kesabaran.

Di samping tiga hal tersebut, Nabi pun menindak lanjuti dengan menghidupkan perniagaan ummat _(tijaarah)_ baik secara sewa-menyewa _(ijaarah)_, bagi hasil produk _(muzaara’ah)_ dan bagi keuntungan _(mudharabah)_. Atas donasi seorang saudagar Muslim bernama ‘Abdurrahman bin ‘Auf _radhiyallaahu ‘anh_ dibuka pula pasar Anshar _(suuq Anshaar)_ yang mampu berkompetisi secara sehat dengan pasarnya orang-orang Yahudi. 

Akhirnya, pelan namun pasti imperium ekonomi yang ratusan tahun dibangun _kapitalis-Yahudi_ di kota metropolis Madinah pun mengalami kebangkrutan dan akhirnya gulung tikar, terkalahkan oleh komitmen _Muhajirin-Anshar_ yang secara sukarela dan penuh tanggung jawab untuk berbelanja di pasar sendiri. Sebagaimana dituturkan Nur Khalis dalam _Jurnal Al-Mawaarid FIAI UII_ (edisi XVI thn. 2006) bahwa keberhasilan pemberdayaan ekonomi kaum Muslimin mampu membawa Madinah kepada karakteristik ekonomi yang _sosialis-religius_, yakni ekonomi berbasis masyarakat yang patuh terhadap ajaran agama.

Secara seksama, dengan jujur harus diakui; ketika prinsip keadilan ditegakkan, nilai-nilai kejujuran dijunjung tinggi dan komitmen ummat yang terpelihara, maka para pendatang Muhaajirin yang disambut pribumi Anshaar telah membawa perubahan besar bagi masyarakat luas yang penuh keberkahan. Masyarakat _madaniy_ yang  kini menjadi populer dengan istilah _civil society_ benar-benar sangat diilhami dari peristiwa ini. Sungguh Al-Qur’an telah memberikan kesaksian, masyarakat yatsrib yang tadinya berada di tepi jurang kehancuran _(syafaa khufratin)_ disebabkan lamanya permusuhan etnik berubah total menjadi masyarakat yang beradab dan hidup penuh pertemanan di bawah naungan _hidayah_ Rabbul ‘Aalamien (Lihat QS. Alu ‘Imran/ 3 : 3). 
Menurut Al-Hafizh Ibnu Katsier dan As-Syaukany, ayat ini turun terkait dengan kondisi mereka. Wallaahu a’lam bis Shawab.
_______________
Penulis adalah : 

– Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam [Komisi ‘Aqidah]

– Anggota Fatwa MIUMI [Perwakilan Jawa Barat]

– Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat dan 

– Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Harakah Haddamah Pusat Kajian Dewan Da’wah.

Leave a Reply

%d bloggers like this: